Kampung Bustaman, sebuah kampung dengan sejarah panjang di Kota Semarang, kampung ini puluhan tahun lalu terkenal sebagai kampung jagal.
Didirikan oleh Kyai Kertoboso Bustam atau Kyai Bastam yang merupakan tokoh kepercayaan Bupati Semarang pada abad ke-18. Awalnya, Kyai Bustam mendapatkan sebidang tanah yang diberikan oleh pihak pemerintah sebagai juru damai dan perantara negosiasi yang menyelamatkan masyarakat serta memulihkan ketertiban pasca peristiwa Geger Pecinan pada tahun 1740-1743
Kyai Bustam sebagai juru tulis dan tangan kanan dari Bupati Semarang saat itu, beliau berjasa dalam menata kembali administrasi, meredam sisa ketegangan dan menjembatani hubungan antara pihak VOC (Belanda), keraton, dan komunitas Tionghoa pasca perang besar tersebut.
Kampung ini dikenal sebagai sentra penjagalan kambing dan sapi, warga setempat mengandalkan mata pencaharian sebagai penjagal yang beroperasi mulai dini hari, semakin berkembang, kampung ini melahirkan kuliner legendaris yakni Gule Bustaman.
Gule tanpa santan yang punya posisi tersendiri di hati penikmat sajian ini. Kini warga di kampung ini sudah sangat sedikit yang berprofesi sebagai penjagal, namun kampung ini masih terus bergeliat sebagai penghasil gule legendaris yang diburu pecinta kuliner.