Jejak keberadaan Belanda menjadi arsip sejarah yang signifikan, tidak hanya meninggalkan kemegahan infrastruktur saja. Pengaruh kolonial Belanda nyatanya sampai pada bahasa.
Akulturasi budaya semasa penjajahan membuat interaksi di masyarakat menyebabkan terjadinya penyerapan kosakata. Terdapat beberapa kata terserap ke dalam Bahasa Jawa dan Indonesia, yang kemudian menjadi alat komunikasi sehari-hari.
Beberapa kosakata dalam bahasa Jawa tersebut berasal dari bahasa Belanda, yang disederhanakan, dan disesuaikan dengan pola tutur masyarakat pribumi.
Lantas, kata - kata dalam bahasa Jawa mana saja yang berasal dari bahasa Belanda . Berikut rangkumannya.
1. Duit
Masyarakat Jawa masih sering menggunakan kata Duit untuk percakapan sehari-hari. Bahkan penggunaan kata ini sudah ada dan mendarah daging sejak zaman kolonial Belanda.

Duit atau Doit mengacu pada koin kecil yang pada saat itu digunakan oleh perusahaan Belanda atau lebih dikenal dengan sebutan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).
Kata tersebut berasal dari nama mata uang logam. Sekitar abad ke-17 hingga ke-19, duit ditetapkan sebagai satuan uang kecil atau alat tukar yang digunakan di wilayah Hindia Belanda, dan beredar umum untuk transaksi sehari-hari masyarakat.
Mata uang tersebut resmi disebut dengan istilah "Duit" dan dicetak oleh pemerintah kolonial. Kata “Duit”, diserap dari bahasa Belanda "duiten", yang saat itu kerap digunakan dalam aktivitas jual beli, kemudian dilafalkan oleh penduduk pribumi hingga menjadi penyebutan umum.
2. Sepur
Kata "Sepur" mengacu pada rel kereta api atau sering digunakan untuk menyebut kereta api (dalam bahasa Jawa).

Istilah “Sepur” sendiri berasal dari bahasa Belanda yaitu “Spoor”, yang artinya rel kereta api. Sedangkan dalam bahasa Jawa, Sepur justru digunakan untuk menyebut kereta api secara keseluruhan.
Masyarakat Jawa menggunakan kata tersebut sebagai salah satu cara mereka dalam memahami istilah teknologi baru secara praktis pada saat itu.
3. Pulpen
Kata Pulpen berasal dari bahasa Belanda “Vulpen” yang mengacu pada sebuah alat tulis isi ulang. Istilah tersebut kemudian diserap ke dalam Bahasa Jawa dan Indonesia yang awalnya berbunyi “V” berubah menjadi “P”. Hal tersebut agar lebih mudah dipahami dan diucapkan.

Seiring waktu, kata “Pulpen” mengalami perluasan makna, yang awalnya spesifik mengacu pada “pena isi ulang”, digunakan untuk merujuk pada semua jenis pena bertinta. Sehingga, istilah pulpen menjadi generik.
Belanda telah meninggalkan warisan sejarah secara mendalam di Indonesia, keberadaannya selama ratusan tahun di Nusantara, menyisakan banyak pengaruh tidak hanya dalam bentuk infrastruktur, tetapi juga aspek bahasa.