Zaman sekarang muda-mudi hingga orang dewasa tak asing dengan permen karet. Permen kenyal yang dapat dikunyah untuk menyegarkan mulut atau sekadar menikmati sensasi mengunyah. Bahkan, bagi sebagian orang, mengunyah permen karet sudah menjadi kebiasaan ketika sedang santai, belajar, bekerja, atau setelah makan.
Namun, pernahkah Dulur terpikir apa yang dikunyah orang pada zaman dahulu sebelum adanya permen karet?
Jauh sebelum permen karet dan penyegar napas dikenal, masyarakat Nusantara telah memiliki cara sendiri untuk menjaga kesegaran mulut, yaitu dengan menginang.
Menginang merupakan tradisi mengunyah sirih dan pinang, yang dalam perkembangannya juga dapat menggunakan bahan lain seperti kapur dan gambir. Tradisi ini bukan hanya berkaitan dengan kesegaran mulut, tetapi juga pernah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Catatan mengenai perjalanan I-Tsing pada abad ke-7 Masehi menunjukkan bahwa masyarakat Sumatra telah mengenal dan memanfaatkan buah pinang. Bukti ini memang belum dapat digunakan untuk memastikan bahwa masyarakat Sumatra pada masa itu telah melakukan nginang seperti yang dikenal sekarang. Namun, keberadaan pinang menunjukkan bahwa salah satu bahan utama dalam tradisi sirih-pinang telah dikenal di Nusantara sejak masa awal.
Jejak yang lebih menarik muncul di Jawa pada masa Jawa Kuno. Penelitian mengenai tradisi menyirih menyebut adanya gambaran yang berkaitan dengan aktivitas tersebut pada relief Candi Borobudur dari abad ke-8 dan Candi Sojiwan dari abad ke-9. Pada relief yang ditafsirkan berkaitan dengan menyirih, terdapat perlengkapan yang diduga sebagai tempat sirih dan tempat meludah atau dubang, serta figur manusia di dekatnya yang ditafsirkan sedang mengunyah sirih. Temuan ini menjadi salah satu bukti visual penting mengenai keberadaan tradisi sirih-pinang dalam kehidupan masyarakat Jawa Kuno.
Selain bukti berupa relief, keberadaan sirih dan pinang juga tercatat dalam sumber tertulis. Di Jawa, sirih dan pinang disebut dalam sejumlah prasasti yang berasal dari sekitar abad ke-9 hingga ke-10 Masehi. Pada periode berikutnya, catatan Dinasti Song dari Tiongkok, sekitar abad ke-10 hingga ke-14, menyebut sirih dan pinang sebagai salah satu komoditas yang diekspor dari Jawa. Hal ini memperlihatkan bahwa sirih dan pinang tidak hanya digunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan masuk dalam jaringan perdagangan regional.
Nah lur, siapa nih yang masih melihat nenek atau buyutnya menginang? Selain sebagai permen karetnya mbah-mbah kita dahulu, ternyata nginang juga dipercaya bisa memperkuat gigi loh! Tertarik mau coba nginang Lur?