Bak makan nasi, rutinitas tawuran yang digelar para pemuda bergelar “kreak” di kota Semarang, utamanya di wilayah Semarang Utara kini makin menjadi bagian dari kehidupan sehari- hari yang mau tak mau masyarakat hadapi.
Entah pencarian jati diri yang bagaimana lagi, anomali ini lebih dari sekedar ajang pencarian bakat, bukan prestasi yang dicari melainkan malaikat maut yang para pemuda ini cari, dengan senjata tajam sepanjang kurang lebih satu meter dengan ujung melengkung yang siap dibawa lari kesana kemari sambil berteriak, mengganggu kenyamanan warga saat beristirahat di malam hari.
Kali ini, tawuran kembali terjadi pada hari Selasa (21/4/2026) dini hari, di wilayah Semarang Utara, satu pemuda diduga disandera oleh lawan tawurannya. Dalam video yang diunggah oleh akun instagram @kejadiansmg pada hari Rabu (22/4/2026), nampak seorang pemuda dijewer telinganya dan diperintah untuk menjulurkan lidahnya oleh kelompok lawan yang menyanderanya.
“Tawuran dini hari tadi di Semarang Utara, lawan di Sandra di suruh melet2. Para pelaku tawuran berhasil diamankan jajaran Polsek Semarang Utara, senjata tajame dowu dowu lur (Senjata tajamnya panjang-panjang lur),” tulis akun @kejadiansmg, dikutip pada hari Kamis (23/4/2026).
Pihak kepolisian Semarang Utara bergerak cepat mengamankan delapan remaja yang terlibat dalam tawuran pada hari Rabu (22/4/2026), mereka diamankan oleh tim Elang Utara saat tengah nongkrong sambil menenggak miras di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara.
Selain mengamankan sejumlah remaja, pihak kepolisian juga turut mengamankan senjata tajam yang digunakan untuk melakukan tawuran. Kondisi remaja yang diduga disandera juga dalam kondisi baik, terdapat luka ringan dibagian pelipis mata kiri.
Dihimbau kepada seluruh orang tua yang memiliki anak usia remaja, untuk memperketat pengawasan terhadap putra putrinya, tawuran bukan sebuah prestasi, selain membuat kegaduhan, nyawa anak- anak dan orang lain juga jadi taruhan.