Penulis : Eka Lestari
Warga Semarang pastinya tak akan melupakan jasa seorang dokter, sekaligus pahlawan yang gugur dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang. Seorang dokter yang dikenal karena dedikasi dan misi kemanusiannya selama pertempuran dimasa penjajahan tersebut, menjadi kebanggaan warga ibu kota Jawa Tengah.
Dokter Kariadi, seorang dokter yang selama hidupnya telah mengarungi perjalanan hidup panjang dan penuh dengan tantangan. Karirnya sebagai dokter ikut tercatat dalam sejarah, menjadikannya pahlawan nasional.
Pertempuran Lima Hari di Semarang yang terjadi pasca kemerdekaan tepatnya pada bulan Oktober 1945, merupakan salah satu peristiwa besar, dan heroik dalam sejarah perjuangan melawan penjajah demi kemerdekaan bangsa.
Selama bertugas, dr. Kariadi seringkali berpindah-pindah tempat. Karir gemilangnya dimulai pada tanggal 1 Juli 1942, di mana beliau diberikan amanah dan tanggung jawab yang amat besar, yakni menjadi Kepala Laboratorium Malaria di RS Pusat Rumah Sakit Rakyat di Kota Semarang.
Jabatan itu merupakan puncak dari perjalanan panjangnya, sebagai seorang dokter yang tak kenal lelah dalam pengabdiannya kepada warga pribumi kala itu. Dokter Kariadi mengemban tugas sebagai tenaga medis dan ikut berkontribusi penuh terhadap peperangan yang terjadi di Semarang.
Pertempuran Lima Hari tersebut berlangsung sekitar tanggal 14 hingga 19 Oktober 1945. Dalam peperangan yang terjadi, para pemuda dan berbagai golongan ikut andil dalam perjuangan Bangsa Indonesia, khususnya rakyat Semarang yang rela gugur di medan perang.
Tak hanya golongan rakyat, pertempuran juga melibatkan tokoh-tokoh besar. Banyak pihak terlibat, termasuk pihak medis seperti dr. Kariadi, yang selalu siap sigap mengevakuasi dan menolong para pejuang yang berjatuhan akibat perang.
Rupanya, Semarang menjadi pelabuhan terakhir dr. Kariadi dalam mengabdikan diri untuk kesehatan masyarakat. Suatu sore, tanggal 14 Oktober 1945, Kariadi ditugaskan mengambil sampel air tandon atau reservoir Siranda, saat itu tersiar kabar bahwa tentara Jepang telah meracuni pasokan air minum warga. Mendengar kabar buruk tersebut, dokter Kariadi bergegas dari rumahnya di Karang Tempel menuju lokasi.
Saat dr. Kariadi sedang dalam perjalanan menuju Reservoir Siranda, yang terletak di Candi Lama untuk melakukan pemeriksaan, serdadu Jepang tiba-tiba melakukan aksi serangan di berbagai titik, termasuk jalan menuju area reservoir.
Dokter Kariadi yang dalam perjalanannya ditemani oleh tentara pelajar dan mengemudikan mobilnya, terkejut atas apa yang dilakukan pihak jepang. Beliau kemudian menjadi sasaran kekejaman yang dilakukan tentara Jepang. Meski sudah ada usaha perlawanan dan bertahan sekuat tenaga, namun nasib tak berpihak padanya, beliau terkena peluru tembakan tentara Jepang, darah mengucur deras dari tubuhnya, akibat luka parah yang dideritanya, dr. Kariadi gugur di medan pertempuran.
Situasi semakin memanas setelah dokter Kariadi tak bernyawa, akibat ditembak oleh pasukan tentara Jepang. Pihak Jepang memperparah keadaan hingga membuat kaum pemuda dan rakyat Semarang semakin marah, hingga akhirnya perjuangan dimenangkan oleh rakyat Semarang.
Dokter Kariadi memegang peranan yang penting sebagai dokter yang telah mengabdikan hidupnya untuk kesehatan, dr.Kariadi turut andil sebagai tenaga medis yang siap mengobati para pejuang di tengah situasi sulit pada waktu itu, beliau juga memiliki dampak besar dalam konteks perjuangan kemerdekaan khususnya perlawanan lima hari di Semarang.
Peran serta perjuangan dr. Kariadi dalam menangani pasien yang berjatuhan akibat pertempuran tidak dapat dilupakan. Lewat situasi dan konflik yang berkecamuk pada waktu itu bukan hanya menjadikan dirinya sebagai seorang dokter saja, tetapi juga menjadikan dr. Kariadi sebagai sosok yang memberikan inspirasi.
Jasanya tidak hanya diabadikan sebagai pahlawan dalam sejarah Kota Semarang, tetapi juga menjadi simbol pengabdian dan perjuangan yang nyata. Kini, namanya dijadikan sebagai salah satu nama rumah sakit terbesar di Jawa Tengah yaitu Rumah Sakit dr. Kariadi yang berada di Jl. DR. Sutomo No.16, Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.