Jawa Tengah merupakan salah satu daerah yang memiliki sejarah panjang terkait dengan perjuangan bangsa Indonesia. Daerah ini punya peranan krusial dalam mempertahankan kemerdekaan.
Jawa Tengah berkontribusi terhadap perlawanan dan strategi bangsa Indonesia dalam melawan penjajah. Daerah yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa ini, memiliki pahlawan Nasional yang hebat dan berjasa besar, dalam memperjuangkan kemerdekaan dan hak pribumi.
Jawa Tengah telah melahirkan pahlawan perempuan yang cerdas dan berpengaruh. Mereka ikut berjuang demi kepentingan negara, baik dari segi pendidikan, emansipasi, hingga perang.
Berikut pahlawan perempuan asal Jawa Tengah yang hebat dan pemberani.
1. Raden Ajeng Kartini
Raden Ajeng Kartini merupakan sosok yang berjasa dalam memperjuangkan nasib perempuan. Ia merupakan putri seorang bupati Jepara dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M. A. Ngasirah.
Raden Ajeng Kartini adalah tokoh yang berani menyuarakan fenomena diskriminasi terhadap kaum perempuan di Jawa pada masa itu. Ia merasa adanya perbedaan gender yang tidak adil terutama dibidang pendidikan.
Dulu, perempuan jarang mendapatkan pendidikan formal setinggi laki-laki, karena dianggap tidak penting. Saat beranjak remaja, wanita harus tinggal di dalam rumah, dan hanya boleh fokus pada urusan rumah tangga. Hal tersebut adalah salah satu dari banyaknya fenomena kehidupan yang membatasi hak dan potensi perempuan.
Melihat fenomena tersebut, R. A Kartini tergerak hatinya untuk mengubah nasib para wanita yang kala itu dianggap sebagai kaum lemah dan mengalami diskriminasi struktural, sehingga mendapatkan keterbatasan akses termasuk dalam hal pendidikan.
R. A Kartini berusaha membuka mata masyarakat dan para penguasa untuk mengubah stigma pada perempuan, agar memiliki kesempatan dan kesetaraan di lingkungan masyarakat.
Ia membangun sekolah kecil bagi perempuan di daerah Jepara yang isinya mengajarkan menulis, membaca, dan keterampilan seperti menjahit dan memasak. Selain itu, ia juga menyadarkan hak kepada khalayak melalui surat yang ditulisnya kepada teman-temannya di Belanda (seperti Abendanon), yang berisi pemikiran kritis tentang penderitaan perempuan Jawa, dan dalam bentuk buku berjudul "Habis Gelap Terbitlah Terang".
Tak sampai disitu, R. A Kartini juga mengkritik ketidaksetujuannya terhadap tradisi pingitan dan pernikahan paksa, dimana hal tersebut dianggap mengekang kebebasan perempuan.
R. A Kartini menjadi salah satu sosok yang penting dan berpengaruh yang kini diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional.
2. Ratu Kalinyamat
Ratu Kalinyamat merupakan seorang penguasa Kerajaan Islam Demak pada tahun 1521-1546. Ia adalah salah satu tokoh dari Jepara yang berpengaruh pada masanya.
Memimpin Jepara pada tahun 1549-1579, Ratu Kalinyamat dikenal sebagai pemimpin wanita yang tegas dan disegani. Pada saat kepemimpinannya, ia berhasil mengembangkan wilayah Jepara sebagai pelabuhan dagang dan pusat maritim. Kala itu, Jepara adalah pintu masuk dan pertahanan utama Kerajaan Demak.
Bersama Raden Thoyib dari Aceh atau yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Hadirin (suaminya), membangun galangan kapal dan mempekerjakan ratusan tukang kayu di wilayah bawahan kekuasaannya seperti Jepara, Kudus, Pati, Juwana dan Rembang.
Ratu Kalinyamat membuat Jepara berkembang dan maju. Ia berhasil membuat daerahnya sebagai armada laut yang kuat dan disegani. Dalam catatan sejarah, Ratu Kalinyamat dijuluki sebagai Rainha de Japara senhora poderosa e rica, yaitu Ratu Jepara yang kaya dan berkuasa.
Ia dikenal sebagai penguasa yang berani mengusir Portugis dari Nusantara karena dianggap mengancam kedaulatan negara. Pihak Portugis diyakini menghambat dan merugikan perdagangan rempah-rempah di Jepara, hal itu karena pihak koloni yang saat itu berstatus menduduki Malaka pada 1511, dimana daerah Malaka merupakan kota pelabuhan strategis di pesisir barat daya Semenanjung Malaya.
Dengan mantap dan percaya diri, Ratu Kalinyamat akhirnya melakukan ekspedisi militer ke Malaka dalam misi membantu Sultan Johor melawan Portugis. Ia mengirimkan armada perang gabungan meliputi kapal perang dan ratusan prajurit.
Ekspedisi pertamanya belum membuahkan hasil, namun tidak membuatnya menyerah begitu saja, karena ia melakukan pengiriman armada kedua yang lebih kuat agar bisa menghancurkan pertahanan Portugis.
Meski tidak sepenuhnya berhasil mengusir portugis, Ratu Kalinyamat menjadi salah satu penguasa wanita yang berani melawan penjajah (portugis) yang kala itu berhasil menguasai Malaka.
Ratu Kalinyamat berjasa atas kontribusinya membantu mengusir Portugis demi kepentingan negara. Hingga tercatat namanya dalam historiografi Jawa dan Portugis sebagai sosok wanita (penguasa) yang tegas dan tak kenal rasa takut. Ratu Kalinyamat dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional.
3. Nyi Ageng Serang
Nyi Ageng Serang atau RA Kustiyah merupakan panglima perang wanita yang terkenal cerdas dengan taktiknya. Ia adalah sosok keturunan darah pejuang dari Sunan Kalijaga dan Leluhur Ki Hajar Dewantara.
Sebagai seorang pemimpin militer, Nyi Ageng menjadi komandan tertinggi dalam memimpin pasukan di wilayah Serang, Purwodadi, Demak, Semarang, Kudus, dan Rembang.
Nyi Ageng Serang terkenal akan kepintarannya dalam menggunakan senjata dan caranya dalam melakukan perlawanan. Taktik perang terkenalnya di masa itu adalah strategi daun lumbu, yaitu memerintahkan prajurit melakukan perang gerilya dengan cara menutupi kepala menggunakan daun lumbu (keladi), tujuannya untuk menyamarkan diri agar tampak seperti kebun (saat Perang Diponegoro tahun 1825-1830).
Taktik cerdasnya tersebut, berhasil mengelabui Belanda hingga akhirnya pasukan Nyi Ageng Serang berhasil mengepung musuh. Pihak Belanda tidak menyadari adanya penyamaran tersebut yang kemudian membuatnya terkepung dan diserang.
Strategi kamuflase menggunakan daun talas berhasil membuat pasukan Belanda terkecoh dan kalah di medan pertempuran. Meski tidak membuat Belanda kalah total, namun taktiknya berhasil memberikan peran besar terhadap kondisi Belanda, sehingga mereka mengalami kesulitan selama Perang Diponegoro. Kegigihannya dalam memimpin pasukan perang, membuatnya ditakuti pihak kolonial. Atas dedikasinya, Nyi Ageng Serang diberi gelar sebagai pahlawan Nasional.
Itulah pahlawan Nasional perempuan dari Jawa Tengah yang berhasil melawan penjajah dan membela hak pribumi. Mereka adalah sosok inspirasi bagi perempuan yang mewariskan nilai-nilai keberanian, kecerdasan, dan semangat persatuan di era modern.