Soto bukan makanan yang langka di Indonesia, hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki kuliner soto dengan kekhasannya masing- masing. Tidak hanya di Indonesia, soto juga dikenal di kancah mancanegara.
Macam- macam soto yang acap kita temui seperti soto Madura, soto Betawi, soto Lamongan, Coto Makassar, soto Boyolali dan masih banyak lagi memiliki citarasa nya sendiri. Istilah soto berasal dari bahasa China dialek Hokkian Cau Do, Jao To, atau Chau Tu yang berarti ‘rerumputan’ atau ‘jeroan berempah’.
Menurut pakar sejarah Asia Tenggara, Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa 2: Silang Budaya Jaringan Asia, (2005) imigran dari negeri China telah menguasai berbagai produksi ekonomi di Nusantara sejak abad ke - 18 yang salah satunya adalah membuka berbagai jenis restoran di pesisir Nusantara. Mereka membuat sajian makanan khas negara mereka dengan konsep menyederhanakan dan merakyat, dengan menjajakannya menggunakan pikulan berkeliling kampung.
Awalnya soto yang mereka buat sesuai dengan sajian di negara mereka yaitu dengan menggunakan daging babi dan jeroannya, namun karena masyarakat Indonesia banyak masyarakat muslim, mereka memodifikasi sotonya menggunakan daging ayam, sapi atau kerbau dengan jeroannya. Hingga kini soto menjadi bagian dari kuliner bersejarah di Indonesia.
Umumnya kaldu soto dibuat dengan merebus daging dan jeroan yang kemudian ditambahkan beberapa rempah- rempah seperti serai, daun salam, jahe, lada bubuk, kemiri, bawang putih dan bawang merah, kunyit dan penyedap seperti garam, msg, gula.Namun demikian setiap daerah memiliki kekhasanya sendiri, ada yang berkuah bening, berkuah kuning, atau berkuah santan, seperti pada soto Betawi, coto Makasar, Soto Banten, dan Soto Aceh.