Semarang, adalah kota yang penuh dengan budaya dan wisata yang unik nan menarik. Kota yang dahulunya merupakan salah satu pusat perdagangan di Pulau Jawa pada masa penjajahan ini menyimpan segudang warisan budaya salah satunya Sesaji Rewanda.
Kalau masih asing dengan Sesaji Rewanda, namun pastinya dulur tak asing lagi dengan Goa Kreo Kota Semarang kan?! Goa yang konon menjadi tempat pertapaan Sunan Kalijaga dalam perjalanannya mengemban tugas mencari kayu jati untuk pembangunan Masjid Agung Demak.
Dalam proses pencarian kayu jati dengan kualitas mumpuni, Sunan Kalijaga dibantu oleh empat kera berwarna merah, hitam, putih dan kuning di kawasan Goa Kreo untuk menjaga kayu- kayu jati yang hendak di bawa ke wilayah Demak.
Usai mendapatkan kayu-kayu jati yang sesuai dengan spesifikasi dan standar yang diinginkan, Sunan Kalijaga memerintahkan keempat kera tersebut untuk memelihara kawasan tersebut, dalam bahasa Jawa disebut istilah “Mangreho” yang akhirnya menjadi sebutan “Kreo” untuk goa tersebut.
Sesaji Rewanda sendiri merupakan tradisi tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Kandri, Gunungpati, Kota Semarang setiap 3 Syawal atau H+3 Lebaran di Goa Kreo.
Sesaji Rewanda dari kata ‘Sesaji’ yang berarti sajian/hadiah dan ‘Rewanda’ yang berarti monyet, artinya adalah tradisi memberi makan para kera yang ada di goa kreo. Tujuan dari tradisi ini adalah untuk menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam dan lingkungan sekitar, serta sebagai bentuk syukur kepada Tuhan YME.
Prosesi akan dimulai dengan arak-arakan gunungan hasil bumi dan buah-buahan serta sego kethek yang ikonik, dari balai desa menuju Goa Kreo, lalu diikuti dengan penampilan dari para pelaku seni di Kota Semarang.
Bagi dulur yang ingin menikmati indahnya keharmonisan manusia dengan alam dan lingkungan, bisa datang ke Goa Kreo pada hari Sabtu (28/3/2026) mulai pukul 08.30 WIB hingga selesai.