Semua anak lahir ke dunia dengan hati yang murni dan bersih, mungkin dalam benaknya hanya cinta dari kedua orang tua sudah cukup untuk merasakan aman meski lahir di tengah kondisi dunia yang begitu kejam. Namun terkadang realita tak seindah bayangan dalam benak kita.
Seperti pilu yang dirasakan seorang bayi laki-laki yang ditemukan di depan rumah warga di wilayah Peterongan, Kota Semarang pada hari Minggu (5/4/2026) sekira pukul 08.00 WIB.
Mungkin pagi atau malam itu, untuk terakhir kalinya ia merasakan dekap hangat dari orang tuanya, mungkin ibu atau mungkin ayahnya, ia tersenyum manis menatap wajah orang tercintanya, hingga senyum itu berubah menjadi ketakutan yang perlahan merasuki hati kecilnya ketika ia ditaruh di teras rumah warga, rasanya dingin dan keras, tubuhnya berusaha sekuat tenaga meraih tangan yang perlahan menjauh, namun bisa apa tubuh yang bahkan belum bisa duduk sendiri itu?
Matanya meneliti ke segala sudut yang bisa ia jangkau, ia merasa asing dengan lingkungan itu, hingga tangisnya pecah sebagai bentuk permintaan tolong paling nyaring yang bisa dia serukan. Beralas selendang biru, dengan kaos berwarna merah dan celana panjang biru yang menemani, pemilik rumah menemukan bayi malang itu menangis tersedu-sedu di antara perabotan dekat tempat cuci piring.
Warga datang berkerumun, banyak yang iba dengan nasibnya, kini bayi laki-laki yang diduga ditelantarkan oleh orang tuanya itu telah dibawa ke dalam dekapan Dinsos kota Semarang guna mendapatkan perawatan.