Kabar gembira bagi warga Semarang, kini pembangunan Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) di wilayah Rowosari, Tembalang, telah mencapai 90 persen. Kabarnya sekolah ini mampu menampung 1.080 siswa kurang mampu mulai tahun ajaran 2026/2027.
Sekolah Rakyat Terpadu ini merupakan program pendidikan yang diperuntukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Informasi mengenai siapnya fasilitas pendidikan ini diunggah oleh akun Instagram @semarangskyject, ditinjau pada hari Kamis (25/6/2026).
“Progress Sekolah Rakyat (SRT) Rowosari, Tembalang, Kota Semarang ini telah mencapai 90 persen. Sekolah tersebut siap menampung 1.080 siswa kurang mampu mulai tahun ajaran baru 2026/2027. Proyek yang berdiri di atas lahan seluas 6,5 hektare tersebut ditargetkan selesai sepenuhnya pada 10 Juli 2026,” tulis akun @semarangskyject dikutip pada hari Kamis (25/6/2026).
Dalam unggahan tersebut, nampak bangunan bercat putih dan oranye itu tampak megah dan luas.
Dikutip dari laman espos.id pada hari Kamis (25/6/2026), Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang, Handi Priyanto mengatakan, berdasarkan hasil peninjauan, sebagian besar fasilitas utama seperti ruang kelas, asrama, tempat tidur, toilet hingga jaringan air bersih telah tersedia, sedangkan sarana pendukung lainnya masih terus dikerjakan.
Dinas Pendidikan Kota Semarang, juga diminta untuk menyiapkan guru transisi yang akan mengajar siswa jenjang SD, SMP, dan SMA dalam satu kompleks Sekolah Rakyat.
Menurut Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang, Moh.Agus Junaidi, mengatakan, proses penjangkauan peserta didik masih dilakukan di 16 kecamatan. Pada tahun ajaran baru mendatang, kuota siswa jenjang SMP dan SMA telah terpenuhi sebanyak 90 siswa. Sedangkan kuota siswa jenjang SD baru terisi 37 siswa, hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kota Semarang.
Agus mengakui masih ada sebagian orang tua, terutama calon siswa SD yang merasa berat melepas anaknya tinggal di asrama, meski demikian pemerintah terus memberikan edukasi bahwa orang tua tetap diperbolehkan menjenguk anak setiap hari.
Sebanyak 92 siswa Sekolah Rakyat rintisan yang saat ini menempati gedung BBPVP Semarang, saat tahun ajaran baru dimulai akan dipindahkan ke bangunan permanen di Rowosari.