Perbaikan jembatan Nogososro di kawasan Perumahan Tlogosari, Pedurungan, Kota Semarang yang digadang menjadi solusi pengendali banjir tak kunjung rampung, sejak dibongkar 3 Februari 2024 lalu baru berdiri satu jembatan darurat, dengan banyak kerikil dan bebatuan, sedangkan sisi jalan lainnya belum tersentuh perbaikan hingga kini dan sudah terhenti berbulan- bulan lamanya.
Jembatan Nogososro ini menjadi salah satu akses alternatif bagi warga wilayah Semarang Timur, Genuk dan Pedurungan menuju pusat kota Semarang.
Supriyadi, warga sekitar lokasi tersebut mengaku tak habis pikir, Pemkot Semarang tidak sungguh- sungguh memperbaiki Jembatan Nogososro.
“Jembatan sementara juga akses jalannya masih bebatuan dan banyak kerikil. Tempat jualan saya juga terdampak sama debu yang bertebaran,” kata Supriyadi, Minggu (16/6/2024).
Pria yang setiap harinya berjualan dekat Jembatan Nogososro itu mengaku sering melihat pengendara motor jatuh karena terpeleset, lantaran akses jalan jembatan belum diaspal dan banyak kerikil serta batu.
“Iya saya lihat sendiri karena jalan masih bebatuan dan banyak kerikil sering terjadi insiden pengendara motor jatuh. Bahkan handphone atau barang bawaan enggak sedikit juga yang jatuh,” ungkap Supriyadi.
Supriyadi mengatakan warga sempat mengadu ke pihak berwenang atas kondisi jalan tersebut, namun respon yang dilakukan hanya memindahkan batu- batu kerikil yang mengganggu lalu lintas, bukan akses jalan yang diaspal.
Senada dengan keterangan dari warga lain, Karim turut membenarkan banyak pengendara motor terjatuh karena terpeleset di jalan yang masih berbatu tersebut.
“Iya, kemarin dua orang jatuh untung enggak ketabrak. Janjinya bakal diperbaiki total, tapi ini sudah mangkrak sekitar empat bulan,” ungkap Karim.
Karena rendahnya konstruksi jembatan banyak sampah- sampah yang tersangkut dan menyumbat aliran air, awal tahun 2024 lalu tempat usaha Karim pun sempat terdampak banjir.
“Bisa dilihat itu banyak sampah yang tersumbat. Setiap sepekan sekali atau sebulan berapa kali sampah di bawah jembatan ada yang memungut,” terang Karim.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Suwarto mengatakan konstruksi jembatan tersebut rendah sehingga kerap membuat sampah tersangkut dan menghambat laju air.
“Karena jembatan terlalu rendah, jadinya kalau ada sampah yang hanyut aliran sungai nyangkol (tersangkut),” terang Suwarto.