Proyek Geothermal di Indonesia tengah gencar-gencarnya digarap. Sebuah energi terbarukan, dengan memanfaatkan lokasi beberapa wilayah di Indonesia yang berada dalam zona cincin api. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi yang telah beroperasi yakni Kamojang (Kabupaten Bandung dan Garut), Salak (Bogor dan Sukabumi), Wayang Windu (Pangalengan), Darajat (Garut), Patuha, Karaha (Garut), Dieng (Jawa Tengah), Sibayak (Kabupaten Karo), Ulubelu (Way Panas), Lahendong (Sulawesi Utara), Ulumbu (Manggarai) dan Sokoria (Ende).
Terbaru, Gunung Ungaran, kini tengah berada dalam tahap eksplorasi. Di satu sisi, geothermal menawarkan sumber energi bersih yang stabil dan rendah emisi karbon dibandingkan dengan pembangkit fosil. Namun di sisi lain rencana proyek tersebut mendapat ribuan penolakan oleh masyarakat lokal dan WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) terkait potensi dampaknya terhadap lingkungan.
Mari kita menilik proyek geothermal di Filipina, salah satu negara yang berhasil mengoptimalkan geothermal hingga menyumbang sekitar 10-13% kebutuhan listrik nasionalnya. Hal ini didukung oleh regulasi mitigasi yang ketat, kemitraan nilai tambah dengan warga lokal, serta teknologi reinjection air limbah tambang kembali ke perut bumi guna mencegah pencemaran air permukaan.
Selain negara Filipina, negara Jepang, yang pada awalnya juga mengalami penolakan terhadap rencana proyek geothermal dari asosiasi pemilik pemandian air panas tradisional (Onsen). Warga khawatir ekstraksi panas bumi akan merusak pasokan serta suhu air panas alami yang menjadi mata pencaharian mereka. Kemudian pemerintah Jepang mewajibkan pengembang untuk tidak mengganggu akuifer dangkal, pembangkit hanya mengambil uap panas dari kedalaman ekstrem mencapai 3.000 meter.
PLTP di Jepang mengembangkan skala kecil dan teknologi Binary Cycle, teknologi ini dapat menghasilkan listrik dari suhu air yang lebih rendah tanpa mencemari lingkungan, sehingga dampaknya terhadap bentang alam minimal. Konservasi taman nasional yang ketat, serta benefit sharing kepada warga, listrik atau sisa air panas dari proyek tersebut dimanfaatkan kembali untuk penghangat rumah warga saat musim dingin, rumah kaca pertanian, dan budidaya ikan lokal sehingga masyarakat merasakan dampak ekonomi langsung.
Kekhawatiran masyarakat di Gunung Ungaran bukan tanpa alasan jika melihat rekam jejak domestik. Di wilayah Dieng, ditinjau dari video kanal Youtube milik Indonesia Baru, warga sekitar proyek geothermal di Dieng mengeluhkan penurunan kualitas air terjadi di sekitar wilayah proyek geothermal Dieng, air yang biasa dikonsumsi, kini berubah menjadi asin, keruh serta diduga mengandung material semen dan logam akibat proses ekstraksi mineral dari dalam bumi.
Warga juga mengeluhkan kerusakan tanaman kentang yang menjadi komoditas pertanian utama di dataran Dieng yang diduga terkait dengan operasi geothermal, serta konflik lahan. Yang mengkhawatirkan lagi, apabila terjadi kebocoran di sekitar area operasional, warga bisa terkena paparan gas beracun hidrogen sulfida yang bersifat korosif, beracun dan berbahaya bagi pernapasan.
Peristiwa keracunan gas ini sudah dirasakan warga sekitar Sorik Marapi, Mandailing Natal, Sumatra Utara, pada bulan Februari 2024, sebanyak kurang lebih 123 warga dilarikan ke rumah sakit karena mengalami gejala keracunan. Maka mitigasi bencana yang presisi dan perencanaan matang mutlak diperlukan, dan kewajiban pemerintah selaku penyelenggara adalah memastikan keamanan masyarakat di atas segalanya.