‘Kreak’ di Kota Semarang makin meresahkan, kini tak hanya remaja laki- laki, remaja perempuan pun turut terjun melakukan aksi tawuran. Mencari jati diri dan eksistensi kerap kali menjadi dasar duel antar kelompok geng.
Keresahan masyarakat kian meningkat, banyak yang geram atas aksi para ‘kreak’, tak hanya membahayakan kelompok mereka saja, aksi tawuran yang kerap mereka lakukan turut membahayakan masyarakat yang tak terkait dengan kelompok mereka.
Dikutip dari laman Tribunjateng.com pada Kamis (22/5/2025), Walikota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti dikabarkan mempertimbangkan untuk mengirim para ‘kreak’ ke Barak Militer. Gagasan yang pertama kali diusung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi ini memang tengah menjadi sorotan.
Menurut Agustina, gagasan tersebut memang patut ditiru untuk mengatasi permasalahan kenakalan remaja, namun demikian untuk mengimplementasikannya gagasan tersebut harus dipelajari terlebih dahulu. Agustina mengatakan pihaknya berencana mengirimkan pegawai Pemkot Semarang untuk belajar ke Pemprov Jawa Barat.
Agustina mengatakan, mengirimkan anak ke Barak Militer perlu mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk terkait dengan penggunaan anggaran negara. Pihaknya akan menghitung apakah anggaran untuk mengirimkan anak- anak tersebut bisa tercover melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
Agustina juga menuturkan, bahwa sebenarnya Pemerintah Kota Semarang telah memiliki rencana untuk mengadakan event olahraga beladiri seperti tinju hingga muangthai. Event tersebut memberi ruang untuk para remaja yang suka melakukan tawuran.
Menurutnya orangtua serta lingkungan memiliki peran vital dalam mengatasi problem kenakalan remaja. Selain itu, peran jajaran kepolisian rutin melakukan patroli untuk mencegah tawuran antar geng kreak juga sangat diperlukan.