Kasus HIV/AIDS di Kota Semarang jadi yang tertinggi di wilayah Jawa Tengah pada tahun 2025, dikutip dari laman rsroemani.com pada hari Kamis (4/6/2026) diketahui Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat, sekitar 620 kasus baru AIDS ditemukan di Kota Semarang.
Hal ini tentu menjadi perhatian publik, angka yang tak sedikit ini merupakan masalah kesehatan yang tak dapat dikesampingkan, namun juga menunjukkan keberhasilan deteksi dini yang sebelumnya tidak terjangkau. Perlu diketahui (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia, virus ini menyerang sel darah putih utama (sel CD4) yang apabila tidak ditangani dan diobati, maka tubuh akan sangat rentan terhadap infeksi dan penyakit lain.
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kondisi paling parah dari infeksi HIV, kekebalan tubuh penderitanya sudah sangat lemah, apabila terinfeksi virus seperti pneumonia, meningitis dan lainnya tubuh penderita akan sangat kewalahan untuk sembuh.
Dikutip dari laman kompas.com pada hari Kamis (4/6/2026), Kepala Dinas Kesehatan (DKK) Kota Semarang, Abdul Hakim mengatakan kepada kompas, bahwa temuan tertinggi berasal dari laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) yang mencapai 44 persen, pasien TBC (Tuberkulosis) 12 persen, pasangan berisiko tinggi 11 persen, populasi umum 11 persen, pasien infeksi menular seks (IMS) 9 persen, pelanggan pekerja seks 5 persen, dan wanita pekerja seks 2 persen dari angka 620 kasus.
HIV sendiri, menular melalui pertukaran cairan tubuh tertentu seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan rektal, dan ASI dari penderita. Cara penularannya melalui hubungan seksual tanpa pengaman (kondom) dengan penderita, berbagi jarum suntik, alat tindik atau tato yang tidak steril dan dipakai bergantian dengan penderita, transfusi darah atau transplantasi organ yang terkontaminasi HIV, serta melalui ibu ke anak, dalam kasus ini penularan dapat terjadi selama masa kehamilan, saat persalinan atau saat proses menyusui.
Sering kali, masyarakat masih menganggap penderita HIV begitu berbahaya, namun faktanya tidak sesederhana itu, kita tidak perlu mengecilkan maupun mengucilkan penderita, HIV tidak akan menular hanya dengan berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan dan minuman, menggunakan toilet yang sama atau melalui gigitan nyamuk. Berinteraksi dengan penderita tidak serta merta menyebabkan orang lain tertular.
Stigma ini membuat banyak masyarakat enggan melakukan tes HIV karena takut dilabeli negatif oleh lingkungan sekitarnya, padahal dengan deteksi dini diharapkan, peluang seseorang untuk mendapatkan pengobatan tepat dan menjalani hidup yang sehat serta produktif jadi lebih besar.
Mari hapus stigma terhadap penderita, empati terhadap penderita diharapkan mampu meningkatkan semangat dalam proses pengobatan. HIV bisa diderita oleh siapa saja, baik anak-anak hingga dewasa, laki-laki maupun perempuan, apabila dulur ingin melakukan tes HIV, dulur bisa mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat.