"Dugderan" berasal dari kata "Dug" dan "Der" dan mendapat akhiran an. Kata “Dug” diambil dari bunyi bedug masjid yang ditabuh berkali-kali, sedangkan kata “Der” sendiri berasal dari bunyi meriam atau ledakan petasan yang dinyalakan bersamaan dengan tabuhan bedug.
Menurut sejarah, upacara Dugderan diperkirakan mulai berlangsung sejak tahun 1881 dikala Semarang dipimpin oleh Bupati RMTA Purbaningrat. Dugderan sendiri merupakan tradisi masyarakat Kota Semarang dalam menyambut datangnya bulan suci ramadhan.
Semanjak pandemi Covid-19 tradisi ini ditiadakan, sebab untuk menghindari penularan virus corona.
Pantauan malam tadi sekira pukul 23.00 (10/3) para pegiat wahana Dugderan sudah mulai membangun wahana mainan, stand kuliner dan stand jual mainan dan selama 12 hari jalan Agus Salim akan ditutup dalam rangka tradisi Dugderan.
Pelaksanaan seremoni Dugderan sendiri akan dilakukan pada tanggal 17 Maret 2023. Bisanya ditandai dengan arak arakan Warak Ngendog dan menabuh bedug dan meriam di halaman Kantor Walikota Semarang di Jalan Pemuda.
Sementara, untuk pelaksanaan wahana mainan, wisata kuliner, dan live music dimulai dari tanggal 10 hingga 22 Maret 2023 yang berlokasi di Aloon-aloon Masjid Kauman (Johar) mulai pukul 10.00 - 22.00 WIB.
Gimana lur? udah kangen ya nonton tong setan beli kapal othok-othok, celengan macan dan lain-lain. yuk gaskeun.